Qalb yang Kalb

Rabu, Maret 26, 2008 with 0 komentar »

Qalbun yang Kalbun

Qalbun dan kalbun memiliki kemiripan dalam penyebutan namun sangat jauh berbeda dalam makna.

Qalbun yang dalam bahasa Arab adalah ”qalb” berarti Hati sering pula dalam bahasa kita sebut qalbu. Seakar dengan Qalb, dikenal juga kata “qallaba-yuqallibu” yakni membolak-balikkan. Sebagaimana artinya, hati manusia bersifat berubah-ubah dan mudah dibolak-balik.

Hati adalah cerminan dari sebuah rumah. Rumah spiritual manusia. Jika kita ingin hidup tenang, maka sebuah rumah harus sakinah, tenang, bersih, dan suci. Jauh dari hal-hal berisik bahkan mungkin yang berbisik. Hati senantiasa dijaga agar bening dan hening. Tidak ada gemerisik di dalamnya. Ya, ini tentu sulit dan diperlukan tekad dan usaha yang keras untuk bisa istiqamah.

kalbun atau kalb dalam bahasa arab berarti anjing. Lantas apa hubungan anjing dengan hati?

Mungkin anda pernah mendengar atau sekedar membaca potongan sebuah Hadits yang kurang lebih bunyinya begini:

Tidaklah masuk malaikat ke dalam rumah yang memelihara anjing di dalamnya”

Orang boleh saja menerjemahkan Hadits diatas secara harfiah. Namun sejumlah orang yang memelihara anjing penjaga atau anjing berburu akan serta-merta protes kepada kita. Sedikit banyaknya Hadits ini telah memberikan efek yang kuat bagi ummat Islam untuk tidak memelihara anjing. Termasuk banyaknya Hadits yang menjelaskan mengenai najis yang ada pada anjing. Sebenarnya memelihara anjing tidaklah dilarang dalam Islam. Adapun najisnya, kita telah diajarkan pula bagaimana cara untuk menbersihkan najis jilatan anjing yakni dengan jalan mencucinya sebanyak tujuh kali dan diselingi dengan satu kali gosokan tanah. Hal ini menunjukkan bahwa suatu saat ada orang Islam yang nanti akan berurusan dengan anjing dalam pekerjaannya.

Dulu anjing sangat berguna bagi orang untuk menggembala ternak seperti kambing, kuda atau domba dsb.

Meskipun anjing memiliki prilaku yang selalu ribut, menyalak, menggonggong dan terkadang menggigit. Namun anjing adalah makhluk yang cerdas yang setia pada tuannya sehingga mudah dilatih untuk keperluan tertentu.

Di era kekinian fungsi anjing selain penjaga rumah, juga dimanfaatkan oleh aparat keamanan sebagai anjing penjaga dan anjing pelacak. Menggonggong dan menggigit jika ada tamu tak diundang. Lagi-lagi anjing dapat memberikan kontribusi yang besar bagi kepentingan manusia. Jika dipikir-pikir anjing tidaklah sehina isu najisnya yang cenderung menjijikkan. Karena terkadang dia melakukan hal-hal mulia bagi manusia.

Dalam Al-qur’an ada anjing yang dimuliakan Allah SWT karena telah mendampingi sekelompok pemuda yang lari menyepi mempertahankan keyakinan mereka dari raja yang zalim pada saat itu. Dan kemudian mereka lebih dikenal sebagai “áshabul kahfi” karena mendiami sebuah gua dan ditidurkan selama tiga abad lamanya. Ada anjing masuk surga, ini memang lucu tapi ini terjadi dan pasti. Allahu wa’lam Bisshawab.

Mari kita kembali kepada hadits diatas. Jika melihat konteksnya, penulis cenderung lebih memaknainya sebagai Hadits yang bermakna kiasan.

Yakni sebagaimana sebelumnya kita ketahui bahwa hati adalah sebuah rumah. Yaitu rumah spiritual manusia dan Malaikat (energi positif, energi ruhiyah, energi Ilahiyah) tidak akan memasuki rumah (hati) jika kita memelihara anjing (yang senantiasa menggonggong, menyalak, berisik, berburuk sangka, mendengki, iri hati, dendam di dalamnya). Sehingga dapat dikatakan bahwa janganlah kita memelihara sifat-sifat anjing dalam rumah hati kita. Sifat anjing manusia adalah penyakit-penyakit hati seperti dendam, buruksangka, iri hati, dengki, dan semua penyakit-penyakit lainnya yang tidak nampak dan bersamayam dalam hati. Hati senantiasa berkecamuk, berisik dan menggonggong dari dalam hati. Jika demikian terjadi pada kita, bisa jadi Qalbun (hati) kita sudah menjadi Kalbun (anjing). Nauuzubillah minzalik!.

Agama malah “gama” ?!

Minggu, Januari 27, 2008 with 1 komentar »


Ini sungguh ironis. Tidak hanya bangsa ini tapi juga setiap bangsa di belahan bumi ini yang selalu mendengung-dengungkan kaifiyah toleransi antar pemeluk agama namun sejauh ini tetap saja tidak berhasil. Kenapa?. Kerusakan yang diakibatkan oleh perbedaan agama, keyakinan, kepercayaan, mashab, aliran, tarekat, ideologi atau apa sajalah yang berbau spiritual, jauh lebih besar dampaknya jika dibandingkan dengan kerusakan yang timbul karena perbedaan suku, kelompok, partai atau mungkin jenis kelamin. Konflik tak berujung antara Palestina dengan Israel misalnya, Islam Syiah dan Sunni di Irak, Islam dan kristen di Serbia, kristen-Sikh di India, dan jangan lupa di Indonesia. Agama telah menyulut konflik.

Seharusnya , tanpa komitmen, wacana dan segala kaifiyah, nilai luhur agama secara natural diharapkan dapat memberikan dan menciptakan kedamaian dan toleransi.

Agama dalam hal ini belum berhasil memberikan kebahagiaan, membentuk moral, dan keberadaban bagi ummatnya. Sehingga inilah yang mungkin ditangkap oleh Freud bahwa secara keseluruhan agama telah gagal. De facto memang A-gama, de jure malah gama. Jika sudah begini, sehingga sebahagian orang lebih memilih untuk tidak memilih agama. Agama yang diharapkan dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian, malah menciptakan ketidaktentraman bagi pemeluknya. Sehigga jika ditanya tentang agama, seseorang lebih merasa aman jika menjawab “i’m spiritual but not religious.” Tak perlu beragama, yang penting “percaya”.

Sebahagian negara membolehkan warganya untuk tidak memeluk agama apapun. Agama dianggap tidak begitu penting. Dan tidak memberikan begitu banyak keuntungan. Sehingga Ayu Utami dalam bukunya “Si Parasit Lajang” mengatakan: “disini (Indonesia,pen), beragama mungkin tak membawa keuntungan, tapi tidak beragama membawa kerugian sosial.” Begitu satire namun sangat jujur. Ada kesan bahwa agama di Indonesia hanya digunakan untuk keperluan birokrasi saja, dan ini sangat lucu meskipun bukan komedi.

Rasulullah SAW. Pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “ya Rasullullah,apakah agama itu?” Rasulullah SAW. Bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi SAW. dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Dia bersabda, “akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi SAW. dari sebelah kirinya,apakah agama itu?” Dia bersabda,”akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “apakah agama itu?” Rasulullah SAW. menoleh kepadanya dan bersabda,”belum jugakah kau mengerti? Agama itu akhlak yang baik. Sebagai misal, janganlah engkau marah”(Al-Targhib wa Al-Tarhib 3:405).

Hadits diatas, menyegarkankan kembali ingatan kita kepada tujuan dasar kenapa kita beragama. Yakni, Akhlak yang baik!. Good attitude!. Budi pekerti!. Perbuatan baik!. Agama mengarahkan kita kepada nilai-nilai ibadah utama yakni bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia. Bukankah tujuan utama diutusnya Nabi SAW. untuk menyempurnakan akhlak?!

Berbuat baik dan berbudi pekerti luhur juga tertuang dalam sabda Sang Buddha bahwa ada empat hal yang berguna yang akan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi sekarang ini, salah satu diantaranya yaitu ajaran Kalyanamitta: mencari pergaulan yang baik, memiliki sahabat yang baik, yang terpelajar, bermoral, yang dapat membantunya ke jalan yang benar, yaitu yang jauh dari kejahatan. Dalam ajaran buddha dhamma diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia sebagai salah satu darma, bukan itu saja, tapi juga mengajak manusia serta menghindarkannya dari bentuk kejahatan.

Begitupun kaum nasrani meyakini : Lalu Yesus berkata kepada mereka; "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" (Perjanjian Baru, Lucas 6:9)

Yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan (Perjanjian Baru, Roma 2:7)

Jika melihat ayat-ayat diatas, semuanya memiliki kandungan perintah untuk berbuat baik sesama manusia. Lalu kenapa agama belum dapat memberikan kedamaian bagi manusia? Ada apa dengan agama? Ini seperti orang yang masuk mesjid pulangnya nyolong sandal. Seakan-akan petuah-petuah agama tak mempan lagi bagi pemeluknya. Jika ajaran agama dianggap benar, berarti ‘oknum’ pemeluknya yang kurang atau tidak memahami ajaran agamanya. Bahkan pertikaian antar agama dianggapnya benar dengan dalih membela agamanya. Padahal agama sendiri tak menginginkan pertikaian dengan alasan apapun. Memang benar bahwa suatu konflik adalah sunnatullah. Hukum sebab-akibat. Hukum alam. Tapi bukan berarti konflik harus terjadi pada perbedaan agama. Kalaupun konflik harus terjadi, konflik itu seharusnya tidak bersifat fisikal. Karena mengingat muatan agama itu tadi. Memberikan nilai-nilai luhur. Nah, Apakah yang akan kita perbuat jika konflik itu masih saja meruncing?

Dahulu, konflik-konflik yang tidak bisa lagi ditolerir melahirkan banyaknya kelompok-kelompok atau mungkin pribadi-pribadi dari suatu agama yang lebih memilih untuk ber-uzlah ataupun ber-khalwat mengamankan keimanan dan kejernihan hati mereka agar tidak ternodai dan melenceng dari kemurnian ajaran agamanya.

Uzlah ataupun khalwat pernah dikerjakan oleh para Nabi saat mengemban tugas membimbing ummatnya. Seperti khalwatnya Nabi Muhammad SAW. ke goa hira di saat penduduk Mekkah berada pada puncak kekakafiran yakni melenceng dari agama Ibrahim, Musa, dan Isa pada waktu itu. Nabi SAW, selalu melakukan itu di waktu-waktu tertentu untuk menjaga kegelisahannya terhadap kondisi ummatnya yang mengkhawatirkan. Dan kemudian di tempat itu pulalah pertama di turunkannya wahyu.

Sekelompok pemuda juga pernah melakukan khalwat dengan menyepi di goa karena ingin menyelamatkan keimanan mereka dari penguasa yang lalim pada saat itu. Sehingga kemuliaan mereka itu dipuji-puji dan diabadikan Allah SWT. dalam Al-Qur’an dengan sebutan Ashabul Kahfi. Bahkan mereka ditidurkan lebih dari tiga abad lamanya agar kaum setelahnya dapat mengambil pelajaran.

Begitu banyak hamba Allah SWT yang telah dimuliakan dalam Al-Qur’an maupun Kitab-kitab terdahulu seperti Injil, Taurat, Zabur dsb, karena telah menjaga kesucian hati mereka. Ada yang disebutkan namanya ada pula yang disamarkan dengan sebutan Hambaku yang mulia” dalam Firman-NYA. Seorang Sidharta Gautama misalnya mencapai pencerahan dalam khalwatnya dan kemudian menjadi Nabi atau Budha, juga karena senantiasa menjaga kesucian hatinya. Sehingga ajarannya pun masih ada sampai sekarang ini.

Sehingga muncullah banyak Hamba-hamba Allah SWT. di generasi berikutnya yang senantiasa melakukan khalwat demi menjaga dan menyebarkan ajaran-ajarannya yang berorientasi pada kebersihan hati dan ketauhidan. Banyak dari mereka kita sebut sebagai kaum Sufi, Pendeta yang menempuh jalur kependetaan, Rahib, dan para Biksu.

Dalam dunia moderen saat ini pun masih banyak orang-orang seperti mereka, yang lebih mementingkan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Mutlak berlandaskan kepada kesucian hati dan akhlakul karimah kepada sesama manusia. Dan menghindari segala perselisihan, konflik, pertentangan, buruk sangka, fitnah dan menyebarkan kedamaian.

Sebagai manusia sibuk, kitapun dapat melakukan uzlah atau Khalwat pada diri kita sendiri dengan merenungi kekuasaan Tuhan, meng-uzlah-kan hati kita setiap saat dari segala hal-hal yang bisa mencemarinya. Semoga Tuhan pencipta langit dan bumi ini senantiasa melindungi kita semua terutama bagi orang-orang yang selalu menyebarkan kebaikan-kebaikan kepada sesama manusia, dan seluruh makhluk. Amien!


MUDIK ITU FITRAH

Sabtu, Desember 22, 2007 with 0 komentar »

Mudik menjelang perayaan Hari Raya sudah menjadi tradisi rakyat bangsa Indonesia. Sepertinya sudah menjadi suatu keharusan pribadi yang dilakukan orang setiap tahunnya. Hari Raya Iedul Adha sudah ditunaikan, tentulah mudik kali ini tidak seramai mudik pada perayaan Hari Raya Iedul Fitri. Namun mudik tetap begitu berarti disetiap hari-hari Raya. Hari Raya Iedul Adha adalah perayaan Hari Raya Qurban sekaligus menjadi napak tilas dari perjalanan Nabi Ibrahim A.S. yang diabadikan dalam ritual Haji.

Mudik dalam bahasa Jawa berarti mau udik. Pulang kampung. Ada juga yang mengatakan bahwa mudik sebenarnya berasal dari bahasa Arab yakni Maudi’ yang merupakan bentuk isim maf'ul dari da’ā – yad’ū – maudian. Maudi’ Ini berarti terpanggil pulang, dikembalikan. kata “kembali” disini mengindikasikan kepada orang yang dikembalikan suci. Kembali fitrah. Kata ini memiliki akronim dengan asal kata Ied pada Iedul Adha, atau Iedul Fitri. Ied berasal dari kata āda-ya’ūdu-iedan’. Berarti kembali pulang. Berarti kedua kata itupun memiliki arti yang hampir sama. Disinilah kita kemudian memakai kata ini setiap kita pulang kampung. Wallahu A’lam.

Terlepas dari itu semua. Tradisi mudik ini secara budaya turun temurun bagi perantau telah melahirkan yang secara sengaja atau tidak, telah mengajarkan kita untuk senantiasa ingin “kembali” dalam artian sesungguhnya. Pulang kampung yang kita lakukan karena ada suatu napak tilas kita, jejak kita, kenangan kita, yang selalu kita rindukan untuk kita telusuri kembali di kampung halaman kita. Bukankah Iedul Adha juga mengajarkan kita untuk menelusuri kembali jejak-jejak para Rasul. Berarti mengikuti jejak termasuk jejak spiritual para Nabi dan Rasul adalah suatu bentuk ibadah yang bernilai khusus.

Kampung halaman kita adalah kampung dimana kita dilahirkan oleh seorang Ibu. Dimana kita dibesarkan oleh seorang Ibu. Yang seringkali juga kita namakan Ibu pertiwi pada tempat lahir kita. Kondisi suci manusia adalah kondisi dimana pada saat itu kita mengucapkan janji setia pada Tuhan dan mengatakan “Qālū balā syahidnā”. Dan ketika itu masih dalam rahim ibu. Saat itu kita belum memiliki dosa. Masih suci. Masih bayi yang masih janin. Bahkan tempat kita saat itu pun suci, yang kemudian kita kenal dengan nama Rahim ibu yang juga menjadi salah satu nama dari sifat-sifat Tuhan, yang artinya kasih sayang. Jejak kehidupan manusia diawali dari sana. Dari tempat yang suci. Dimasa yang suci pula. Maka pantaslah jika Surga ditelapak kaki Ibu. Karena di perutnya saja menjadi tempat dialog kita dengan Tuhan. Dan wajar pula kenapa manusia merindukan Mudik. Rasa ingin kembali kepada induknya.

Pantaslah kalau kita katakan bahwa budaya Mudik merupakan salah satu bentuk ibadah/ ritual fitrah kita dalam menyusuri kembali jejak perjalanan hidup kita yang tidak dapat kita hindari. Termasuk di dalamnya misi Mudik adalah pulang untuk sungkeman kepada orang tua terutama Ibu. Memohon doa restu agar senantiasa berada dalam ruang lingkup Fitrah. Suci.

Kemudian momen lebaran ini, di Indonesia yang konon kabarnya, lahirlah sebuah wadah yang oleh para Ulama pembawa Islam terdahulu agar mengaktualisasikan acara sungkeman atau salam-salaman ke tetangga-tetangga, sanak saudara, karib dan famili dengan acara yang lebih besar lagi yakni halal-bihalal. Saling menghalalkan segala dosa-dosa. Ini dipandang perlu karena dosa horisontal sesama manusia hanya diampuni dengan cara meminta maaf secara horisontal pula. Face to face. Secara langsung. Dengan jalan ziarah dari rumah ke rumah. Dari tempat satu ke tempat yang lain.

Nah, kemudian berkembanglah tradisi ziarah ini sampai ziarah kepada orang-orang yang sudah wafat. Yang biasa dilakukan setiap hari raya tiba. Berziarah ke kuburan orang-orang tua kita. Datang dan mendoakan mereka. Karena sungguh mereka orang-orang yang sudah mati itu tahu dan mendengar apa yang dilakukan oleh orang-orang hidup. Terutama kepada Ibu yang telah melahirkan dari rahim yang merupakan fitrah kita. Selamat Hari Raya Iedul Adha.